Cerita Pendek
Inspiration
Pertanian
Short Story
Beautiful House
Namaku Salsabilla Hanifa. Ayah, ibu,
teman, dan keluarga biasa memanggilku Hani. Aku mempunyai seorang adik cowok,
namanya El Rayhan, biasa dipanggil El. Sekarang ia kelas 1 SMA. Aku
tinggal di pemukiman tengah kota,
Jakarta Barat tepatnya. Bersanding dengan rumah-rumah lainnya. Syukur, kami
tidak tinggal berdempet-dempetan. Sehingga, daerah di sekitar rumah kami masih
terlihat enak dipandang.
Ayahku hanya bekerja sebagai guru honorer
di sebuah sekolah. Gaji yang ayahku dapatkan sangatlah pas-pasan untuk
kebutuhan kami berempat. Kami mendapatkan biaya tambahan melalui ibuku. Ia
membuka rumah makan kecil di tempat kami.
Ketika
pagi, warung kami selaluramai. Pelanggan ibuku kebanyakan dari karyawan
perusahaan yang harus berangkat pagi-pagi, tetapi belum sempat memasak buat
sarapan. Mereka bilang, makanan ibuku rasanya khas.
Rumahku
sangat sederhana. Tidak mewah dan tidak kumuh. Halaman rumahku hanya berukuran
10m x 20m. Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan kuliah. Tetapi aku
bereksperimen dengan halaman rumahku. Ini ceritaku...
~~~
Angin
menari di halaman rumahku. Menyentuh pepohonan, daun-daun, bunga-bunga.
Bersenandung dengan desihan air kolam. Rumahku terasa sejuk, walaupun rumahku
bukan rumah mewah, tetapi banyak orang yang senang berkunjung ke rumahku.
Aku
memanfaatkan lahan rumahku sebagai tempat berkebun. Aku ingat, sewaktu SMA aku
pernah belajar mengenai pemanfaatan lahan pertanian. Di sana ada yang namanya
Sistem Pertanian Vertikultural. Sistem ini membutuhkan lahan yang sedikit, dan
penanamannya dengan sistem bertingkat.
Suatu
hari, aku meminta adikku untuk membangun sebuah rak tingkat 4 yang tingginya
sekitar 120cm. Aku ingin membudidayakan sebuah tanaman dengan sistem
vertikultural. Sebelum aku memulainya, aku mencari referensi di warnet. Aku
mempelajari tanaman-tanaman yang sering dicari masyarakat indonesia, seperti
sayur-sayuran. Saat itu aku mendapatkan ide, aku akan menanam seledri. Aku
segera mencari informasi tentang tanaman tersebut. Di tanah seperti apa mereka
tumbuh? Bagaimana perawatannya? Berapakali penyiramannya?Hama apa yang biasa
mengganggu tanaman tersebut? Dan apakah tanaman tersebut termasuk tanaman musiman
atau tidak? Dan masih banyak lagi.
Setelah
mencari informasi tersebut, aku mempersiapkan bahan-bahan untuk tanaman ini.
Membeli bibit di toko bibit tanaman. Menyiapkan wadah buat tanaman ini. Dan
menyiapkan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik. Semua bahan telah siap,
and i’m ready for planting.
“El,
bantuin kakak tanam sayur dong!”
“Kunaon
teh, kakak mau buat apa?”
“Healah
lu mah ya, kakak pengen buat kebun sayur. Lu tahu kan, mumpung di daerah kita
belum ada yang jual sayur-sayur segar langsung seperti ini, kita harus
memanfaatkan kesempatan ini buat jadi bisnis kita. Nanti kalau tanaman ini
berhasil berkembang, kita bisa jadikan bahan makanan buat warung ibu, juga bisa
kita jual dengan harga terjangkau. Dan, orang-orang bisa beli sayuran di kita
langsung, mereka bebas memlilih yang mana menurut mereka bagus.”
“Hmmm,
kak, it’s good idea. Pasti gara-gara belajar agribisnis yah kak? Hahahah”
“Hahaha,
lu tau aja deh, El”
“And
now, kita mulai dari mana? Kemarin kakak minta bikinin rak kan? Tuh, udah El bikinkan. Tapi kok kakak pakai rak beginian ya?”
“Kakak
mau mencoba pembudidayaan tanaman dengan sistem vertikultural. Jadi, hanya
dengan lahan kecil segini. Kita bisa menghasilkan banyak. Karena sistem
menanamnya keatas. Bayangin deh kalau misalkan kita pakai lahan biasa. Kalau
kita mau tanam sebanyak 20 sayuran di tanah seperti ini. Kita membutuhkan lahan
sekitar 1x1 m bahkan lebih. Tapi kalau kita menggunakan rak begini, hanya
dengan lahan 1m x 30cm kita bisa menanam 20 sayur. Bagus bukan? Tidak memakan
tempat.”
“Wow,
nice. Ayok kak langsung kita kerjakan”
“Oke
sip”
Begitulah
semangat adikku, aku bersyukur adikku bukan adik yang pemalas. Kami selalu
senang bekerja sama. Menciptakan sesuatu akan terasa mudah bukan jika
dikerjakan bersama-sama.
Semua
peralatan sudah siap, saatnya memasukkan bibit ke dalam wadah. Kami memasukkan
satu bibit pada setiap wadah. Setelah semuanya selesai. Kami menyiram dengan
air yang tidak terlalu banyak. Yang penting cukup buat tanaman tersebut.
Setiap
hari aku memyiram tanaman tersebut. Memperhatikan perkembangannya. Menghusir
hama-hama yang mengganggu. Selain dengan kesibukan itu, aku juga tidak lupa
untuk membantu ibuku dengan urusan dapurnya. Ibuku mendukung eksperimenku kali
ini. Kami semua berharap bahwa tanaman itu akan tumbuh dengan sehat walafiat
hahaha :D
Setelah
beberapa minggu kemudian, apa yang kami tunggu-tunggu pun tidak sia-sia.
Tanaman tersebut siap panen. Lumayan banyak hasilnya. Tetanggaku yang ketika
itu lewat di depan rumahku, malah bertanya “Hani, sayurnya dijual gak? Tante
mau beli dong? Boleh ga? Kalau ke pasar jauh banget, Han. Tante butuh sayur
itu”
Amazing,
belum apa-apa sayur yang udah kutanam dibeli sama tetangga. Dari sini aku
semakin yakin bahwa berbisnis sayuran dapur sangatlah menguntungkan.
“Boleh,
Tan. Tapi Hani belum tahu harga pastinya berapa”
“Ikutin
harga pasaran gimana Han?”
Aku
berfikir sejenak, menghitung dari jumlah modal yang aku gunakan. Aku tidak
perlu mencari keuntungan yang tinggi sekali. Dan akhirnya aku memutuskan, harga
sementara sesuai dengan harga pasaran.
“Oke,
Tan. Hani ngikut saja.”
Experiment
pertama laku. Akhirnya aku berfikir lagi dan lagi. Tidak hanya dengan satu
jenis tanaman saja. Aku mulai melirik tanaman bawang merah. Tapi aku mencoba
dengan memadukan sistem hiroponik dan vertikal. Di mana penanamannya dengan
media hidroponik dan peletakkannya secara vertikal.
Beberapa
minggu kemudian, saatnya panen bawang merah. Dan hasilnya bagus. Semakin ke
sini aku semakin berfikir lebih tinggi lagi. Bagaimana jika aku membuat kebun
sayur dan hasilnya aku jual.
Tanpa
berfikir lama, aku mendiskusikan ini dengan El.
“Ayo
kak, jangan omdo. Let’s move! Move” canda El.
“Hahaha,
asem lu, El. Ayo kita mulai bisnis kita”
Kami
pun langsung bergerak membuat apa yang kami impikan. Mulai dari sayur selada,
bawang merah, sawi, tomat, cabai, terong, wortel, bayam, kangkung, brokoli,
kembang kol,buncis, kami tanam dengan perpaduan cara hidroponik dan vertikal.
Beberapa
bulan kemudian, bisnis ini semakin maju. Kami
pun semakin giat menambah stok produk sayur yang kami buat.
“Kak,
nyangka gak kalau kita bisa buat bisnis ini?”
“Yah
kagak lah, El”
“Eh
iya, kak Hani, gimana kalau bisnis kita ini diberi nama saja. Biar orang-orang
lebih gampang mengenal tempat kita”
“Iyah
tuh ide bagus. Tapi namanya apa ya?”
“El tahu sesuatu yang simple, dan ketika orang lain mendengarnya, mereka seakan
tahu apa itu”
“Apaan, El. Kasih tau cepetan dong!”
“Sabar
atuh kak, slow aja dong hahahah:D”
“Iya
iya, El. Kakak sabar menunggu. Ayo dong kasih tahu”
“Namanya
Garden Store. Asik gak kak kalau di dengar?”
“Hmm,
Garden Store. Awesome Ell !!”
“Fix
nih namanya Garden Store?”
“Okey
fix, El. Kakak suka sama namanya. Padahal, dulu kakak buat ini biar bisa bantu
Ibu saja. Kan kalau begini, Ibu bisa mengurangi jumlah modal yang Ia keluarkan
untuk membeli sayur-sayuran. Sekarang, Ibu mau masak pesanan sayur tinggal
ambil saja di Garden Store”
“Bener
banget kak. Lihat deh sekarang, tiap pagi dan sore, Garden Store selalu ramai.
Terutama para ibu rumah tangga yang selalu menampakkan batang hidungnya di
sini. Mereka mencari kebutuhan dapur mereka dan bebas bisa memilih mana yang
menurut mereka terbaik”
~~~
Setahun
kemudian...
Kringgg...
kring....
Suara
alarm membuka mataku. Pukul 4.30 pagi. Aku segera bergegas mengambil air wudhu
dan melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat, aku mandi dan sarapan. Setelah
sarapan, aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar. Membuka jendela kamar. Hummm,
segarnya udara pagi memasuki kamarku, bersama berkas-berkas cahaya, memberikan
kenikmatan, membawa semangatku memasuki hari ini. Warna-warni bunga bermekaran
di depan kamarku. Yap, tepat di depan kamarku aku memposisikan tanaman-tanaman
hias tersebut. Agar aku selalu bisa menikmati indahnya bunga bermekaran setiap
pagi melalui jendela kamarku, dan juga memantau perkembangan mereka.
Dan
ketika aku mengangkatkan kakiku keluar rumah, udara segar itu semakin menusuk
kalbuku. Betapa indahnya rumahku, hijau daun menari-nari, membelitkan alunan
tersendiri.
Hari
ini adalah hari minggu. Quality Time with Family, agenda kami di minggu pagi. Berkumpul
di tengah-tengah, di antara tanaman sayuran dan tanaman hias. Duduk santai di
kursi taman, sambil nge-teh dan menikmati kueh-kueh buatan ibu, semua terasa
nikmat. Sambil bercanda-canda dengan Ayah, Ibu, dan El.
Sekarang, El sudah bisa membeli kamera dengan hasil dari bisnis ini. Ia suka
mengabadikan momen-momen kebersamaan kami di taman.
Rumahku
adalah segalanya bagiku.


1 comments
good story,..
ReplyDelete